Konjungsi Intrakalimat

Konjungsi Intrakalimat
 
Berdasarkan posisinya dalam kalimat, konjungsi dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu konjungsi intrakalimat dan konjungsi antarkalimat. Namun, pada subbab ini akan dibahas mengenai pengertian dan penggunaan konjungsi intrakalimat saja. Pengertian konjungsi intrakalimat menurut Rahardi (2010:65) adalah konjungsi yang menghubungkan entitas kebahasaan yang ada dalam suatu kalimat. Sementara itu, Wijayanti, dkk (2010:37-38) mendefinisikan konjungsi intrakalimat sebagai konjungsi yang terletak di tengah-tengah kalimat.
 
Berdasarkan kedua definisi di atas, jika dilihat berdasarkan letaknya dalam suatu kalimat, konjungsi koordinatif, konjungsi subordinatif, dan konjungsi korelatif termasuk ke dalam konjungsi intrakalimat. Pada bagian ini, akan dibahas lebih mendalam mengenai penggunaan konjungsi intrakalimat berdasarkan teori Chaer (2009:83-107) dan Rahardi (2009:113).
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, menurut Chaer (2009), konjungsi koordinatif dan subordinatif termasuk ke dalam konjungsi intrakalimat. Konjungsi intrakalimat menghubungkan dua buah bentuk kebahasaan yang kedudukannya sederajat. Konjungsi ini memiliki beberapa kategori yang akan dijabarkan sebagai berikut.

1.      Konjungsi penjumlahan

Konjungsi penjumlahan adalah konjungsi yang tujuannya menjumlahkan. Yang termasuk ke dalam kategori konjungsi ini adalah konjungsi dan, serta, dan dengan. Konjungsi dan digunakan di antara dua kata berkategori nomina, verba, adjektiva yang tidak bertentangan, atau dua buah klausa dalam kalimat majemuk koordinatif. Catatan untuk penggunaan konjungsi dan, yaitu (1) jika yang dihubungkan lebih dari dua buah kata atau klausa, konjungsi dan hanya ditempatkan di antara dua kata atau klausa terakhir dan (2) konjungsi dan tidak boleh digunakan untuk mengawali sebuah kalimat.
Konjungsi serta digunakan di antara dua buah kata atau lebih sebagai pengganti konjungsi dan dan di antara dua buah klausa dalam sebuah kalimat majemuk koordinatif yang subjeknya adalah identitas yang sama. Sementara itu, konjungsi dengan digunakan di antara dua buah kata berkategori nomina pengisi fungsi subjek. Sebenarnya, kata dengan lebih tepat berstatus sebagai preposisi daripada sebagai konjungsi.

2.      Konjungsi pemilihan
Konjungsi pemilihan adalah konjungsi yang tujuannya memilih salah satu konstituen yang dihubungkan. Yang termasuk konjungsi jenis ini adalah konjungsi atau. Konjungsi atau digunakan di antara dua buah kata berkategori nomina/frasa nominal, berkategori verba, berkategori adjektiva yang maknanya berlawanan, dua kata verba atau adjektiva dengan bentuk ingkarannya,  atau dua buah klausa dalam kalimat majemuk koordinatif. Jika terdiri lebih dari dua kata atau klausa, konjungsi atau ditempatkan di depan unsur terakhir.

3.      Konjungsi pertentangan
Konjungsi pertentangan adalah konjungsi yang digunakan untuk mempertentangkan. Yang termasuk konjungsi ini adalah kata tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya. Konjungsi tetapi digunakan, antara lain: 1) di antara dua kata adjektiva yang berlawanan dalam sebuah klausa, 2) di antara dua klausa yang subjeknya merujuk pada identitas yang sama, sedangkan predikatnya adalah dua kata adjektiva yang berlawanan, 3) di antara dua klausa yang identitas subjeknya tidak sama, sedangkan predikatnya adalah dua kata adjektiva yang berlawanan, 4) di antara dua klausa, klausa pertama berisi pernyataan, sedangkan klausa kedua berisi pengingkaran dengan adverbia tidak, 5) di antara dua klausa, klausa pertama berisi pengingkaran dengan adverbia bukan, sedangkan klausa kedua berisi pernyataan yang membetulkan isi klausa pertama. Akan tetapi, konjungsi tetapi tidak boleh digunakan untuk mengawali sebuah kalimat.
Konjungsi namun digunakan di antara dua kalimat. Dalam hal ini, kalimat pertama berisi pernyataan, sedangkan kalimat kedua berisi pernyataan yang berlawanan dengan kalimat pertama. Sebenarnya, konjungsi namun memiliki  fungsi yang sama dengan konjungsi tetapi. Perbedaannya terletak pada konjungsi tetapi adalah konjungsi antarklausa, sedangkan konjungsi namun adalah konjungsi antarkalimat. Sementara itu, konjungsi sedangkan digunakan di antara dua klausa dalam satu kalimat dan konjungsi sebaliknya digunakan di antara dua kalimat atau dua klausa.

4.      Konjungsi pembetulan
Konjungsi pembetulan adalah konjungsi yang tujuannya menghubungkan dan membetulkan kedua konstituen yang dihubungkan. Yang termasuk ke dalam konjungsi ini adalah melainkan dan hanya. Konjungsi melainkan digunakan di antara dua klausa. Klausa pertama berisi pernyataan yang disertai adverbia bukan, sedangkan klausa kedua berisi pembetulan klausa pertama. Namun, pada kasus-kasus tertentu, konjungsi melainkan dapat diganti dengan konjungsi tetapi. Sementara itu, konjungsi hanya digunakan di antara dua buah klausa. Dalam hal ini, klausa pertama berisi pernyataan positif dan klausa kedua berisi pernyataan yang mengurangi kepositifan itu.

5.      Konjungsi pembatasan
Konjungsi pembatasan adalah konjungsi yang digunakan untuk membatasi. Yang termasuk konjungsi ini adalah kecuali dan hanya. Konjungsi kecuali biasanya ditempatkan pada awal klausa kedua. Sementara itu, konjungsi hanya pada dasarnya sama dengan adverbia pembatasan hanya.

6.      Konjungsi pengurutan
Konjungsi pengurutan adalah konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan klausa dengan klausa dalam urutan beberapa kejadian. Yang termasuk konjungsi ini adalah sesudah, sebelum, lalu, mula-mula, kemudian, setelah, dan kata-kata pertama, kedua, ketiga. Konjungsi pengurutan ini bisa digunakan beberapa sekaligus tergantung jumlah klausa yang membentuk kalimat itu.

7.      Konjungsi penyamaan
Konjungsi penyamaan adalah konjungsi yang digunakan untuk menyamakan antara klausa dan bagian klausa. Yang termasuk konjungsi ini, antara lain adalah, ialah, yaitu, dan yakni. Konjungsi adalah digunakan untuk menghubungkan dua bagian kalimat dan biasanya digunakan dalam bentuk definisi, sedangkan konjungsi ialah merupakan variasi dari konjungsi adalah. Konjungsi yaitu digunakan di antara dua bagian kalimat yang wujudnya sama, biasanya antara wujud subjek atau objek dan aposisinya, sedangkan konjungsi yakni dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi yaitu.

8.      Konjungsi penjelasan
Konjungsi penjelasan adalah konjungsi yang digunakan untuk menjelaskan.  Dalam hal ini, klausa kedua berfungsi sebagai penjelas keadaan pada klausa pertama. Bentuk konjungsi penjelas adalah bahwa. Konjungsi ini digunakan sebagai penjelasan wujud subjek yang ditempatkan di belakang subjek, sebagai penjelasan predikat transitif yang diletakkan pada awal fungsi objek.

9.      Konjungsi penyebaban
Konjungsi penyebab adalah konjungsi yang digunakan untuk menyatakan sebab terjadinya suatu keadaan pada klausa utama.  Yang termasuk konjungsi ini adalah karena, sebab, dan lantaran. Konjungsi karena biasanya digunakan pada awal klausa bawahan. Akan tetapi, karena klausa bawahan dapat ditempatkan pada klausa pertama atau kedua, konjungsi ini dapat terletak di awal kalimat atau di tengah kalimat. Sementara itu, konjungsi sebab dapat digunakan untuk menggantikan posisi karena. Namun, konjungsi sebab tidak dapat ditempatkan pada awal kalimat. Selain itu, konjungsi sebab juga berhomonim dengan kata sebab yang berkategori nomina, sehingga ada bentuk disebabkan. Akan tetapi, tidak ada bentuk dikarenakan. Konjungsi lantaran dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi karena dalam bahasa Indonesia ragam nonbaku.

10.  Konjungsi persyaratan

Konjungsi persyaratan adalah konjungsi yang digunakan untuk menyatakan syarat suatu keadaan yang terjadi pada klausa utama dalam kalimat majemuk subordinatif. Yang termasuk ke dalam konjungsi ini adalah kalau, jika, jikalau, bila, bilamana, apabila, dan asal. Selain itu, ada juga persyaratan yang berupa pengandaian, seperti  andaikata, seandainya, dan andaikan. Konjungsi kalau biasanya ditempatkan pada awal klausa bawahan. Klausa bawahan ini dapat berposisi sebagai klausa pertama dan kedua, sehingga konjungsi ini dapat terletak di awal atau di tengah kalimat. Sementara itu, konjungsi jika, jikalau, bila, bilamana, apabila, dan asal dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi kalau.

11.  Konjungsi tujuan
Konjungsi tujuan adalah konjungsi yang digunakan untuk menyatakan tujuan dilakukannya tindakan pada klausa pertama. Yang termasuk konjungsi ini adalah agar, supaya, guna, untuk. Konjungsi agar dapat ditempatkan pada awal klausa kedua dari sebuah kalimat majemuk subordinatif, sedangkan konjungsi supaya dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi agar. Sementara itu, konjungsi untuk dapat digunakan pada awal klausa bawahan sebuah kalimat majemuk subordinatif yang berstatus predikat, sedangkan konjungsi guna dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi untuk.

12.  Konjungsi penyungguhan
Konjungsi penyungguhan adalah konjungsi yang digunakan untuk menyungguhkan hal atau peristiwa yang terjadi pada klausa utama kalimat majemuk subordinatif. Yang termasuk anggota konjungsi jenis ini adalah meskipun (meski), biarpun (biar), walaupun (walau), sekalipun, sungguhpun, kendatipun, dan kalaupun. Semua yang termasuk ke dalam konjungsi ini ditempatkan pada awal klausa bawahan dalam sebuah kalimat majemuk subordinatif dan dapat dipertukarkan. Hal ini karena klausa bawahan dan klausa utama dapat ditukar posisinya, sehingga konjungsi ini dapat terletak di awal atau tengah kalimat.

13.  Konjungsi kesewaktuan
Konjungsi kesewaktuan adalah konjungsi yang digunakan untuk menyatakan waktu. Konjungsi ini meliputi ketika, waktu, sewaktu, saat, tatkala, selagi, sebelum, sesudah, setelah, sejak, semenjak, dan sementara.

14.  Konjungsi pengakibatan
Konjungsi pengakibatan adalah konjungsi yang digunakan untuk menyatakan akibat atas terjadinya kejadian atau peristiwa pada klausa utama terhadap kejadian atau peristiwa pada klausa bawahan. Yang termasuk konjungsi ini adalah konjungsi sampai, hingga, dan sehingga.

15.  Konjungsi perbandingan
Konjungsi perbandingan adalah konjungsi yang digunakan untuk menyatakan bahwa kejadian atau peristiwa yang terjadi pada klausa utama sama seperti yang terjadi pada klausa bawahan. Yang termasuk konjungsi ini adalah seperti, sebagai, laksana dan seumpama.


Hampir serupa dengan Chaer, Rahardi (2009:113) menyatakan bahwa konjungsi intrakalimat dapat menandai atau mengaitkan hubungan-hubungan. Berikut ini hubungan-hubungan dan kata hubung yang terkait, yaitu 1) hubungan aditif (penjumlahan), meliputi dan, bersama, serta; 2) hubungan adversatif (pertentangan), meliputi tetapi, melainkan; 3) hubungan alternatif (pemilihan), meliputi atau, ataukah; 4) hubungan sebab, meliputi sebab, karena, lantaran, gara-gara; 5) hubungan akibat, meliputi hasilnya, akibatnya, akibat; 6) hubungan tujuan, meliputi untuk, demi, agar, biar, supaya; 7) hubungan syarat, meliputi asalkan, jika, kalau, jikalau; 8) hubungan waktu, meliputi sejak, ketika, waktu, saat, tatkala, selagi, selama, setelah, sesudah, seusai, begitu, hingga; 9) hubungan konsesif, meliputi sungguhpun, biarpun, meskipun, walaupun, sekalipun, kendatipun, betapapun.

Poin selanjutnya, yaitu 10) hubungan cara, meliputi tanpa, dengan; 11) hubungan kenyataan, meliputi bahwa; 12) hubungan alat, meliputi dengan, tidak dengan, memakai, menggunakan, mengenakan, memerantikan; 13) hubungan ekuatif (perbandingan menyamakan), meliputi seluas, sebanyak, selebar, sekaya; 14) hubungan komparatif (perbandingan membedakan), meliputi lebih dari, kurang dari, lebih sedikit daripada, lebih banyak daripada; 15) hubungan hasil, meliputi sampai, sehingga, maka, sampai-sampai; 16) hubungan atributif restriktif (hubungan menerangkan yang mewatasi), yaitu yang; 17) hubungan atributif tak restriktif (hubungan menerangkan tidak mewatasi), meliputi yang (biasanya diawali dengan tanda koma); (18) hubungan andaian, meliputi andaikata, seandainya, andaikan, kalau saja, jika saja, jikalau, bilamana, apabila, salam hal, jangan-jangan, kalau-kalau; 19) hubungan optatif (harapan), meliputi mudah-mudahan, moga-moga, semoga, agar.


Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Rahardi, Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Wijayanti, Sri Hapsari, dkk. 2011. Dari EYD ke Esai. Jakarta: Universitas Atma Jaya.


Kategori

Artikel " Konjungsi Intrakalimat " , terkait dalam kategori berikut ini;