Kemasan Makanan (Food packaging)

Pengemasan/ kemasan makanan merupakan cara manusia untuk melindungi produk atau makanan tertentu agar terjaga dari kondisi luar yang dapat merubah dan merusak produk atau makanan itu sendiri. Mengingat produk atau makanan harus terjaga kondisi dan kualitas kesehatan untuk konsumen, maka ada beberapa kajian yang dapat kita pelajari untuk merancang atau desain packaging makanan. 

Kemasan Makanan

Melalui beberapa referensi saya merangkum artikel dan teori kemasan makanan, untuk memberikan info, syarat, fungsi, dan strategi kemasan makanan/food packaging.

Secara umum dari berbagai sumber yang sudah saya kumpulkan diperoleh pandangan dasar mengenai kemasan makanan/pengemasan produk makanan;

Kemasan makanan adalah alat kemas/bungkus untuk makanan. Salah satu cara untuk memberikan perlindungan, ketahanan terhadap gangguan, dan kebutuhan fisik, kimia, atau biologis secara khusus.

catatan: (fokus pemahaman pada proteksi atau perlindungan sebuah produk/makan)

Namun dari sumber referensi lain saya memperoleh pemahaman fungsi lain dari kemasan yaitu;

  1. Informasi/label yang memuat fakta nutrisi, kandungan dan informasi lain terkait produk atau makanan yang ditawarkan kepada pembeli, dan
  2. Identifikasi tentang jumlah takaran setiap produk makanan (kg, ons, liter, pack dll) memiliki fungsi mempermudah nilai hitung dari sisi distributor dan konsumen.

Jadi secara umum kita dapat menarik kesimpulan bahwa kemasan makanan (food packaging) merujuk kepada dua hal pokok yaitu perlindungan/bungkus produk makanan dan informasi dari produk makanan yang dikemas. Untuk memperoleh informasi lebih detail mengenai kemasan makanan/ pengemasan makanan saya paparkan beberapa hal penting yang merujuk pada pengemasan/ kemasan makanan. Berikut daftar isi dari arikel mengenai kemasan makan;

Isi

1. Pengertian Kemasan
1.1 Pengertian Kemasan Secara Umum
1.2 Pengertian Kemasan Menurut Para Ahli
2. Sejarah Kemasan Makanan
3. Fungsi Kemasan Makanan
4. Jenis Kemasan Makanan
5. Label Identitas dan Simbol dalam Kemasan Makanan



1. Pengertian Kemasan

↑ Daftar isi

Untuk memahami kajian mengenai kemasan pangan atau makanan kita perlu membedah satu-persatu makna dari kemasan terlebih dahulu. Kita mulai dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) online, berikut pengertian yang saya peroleh; 

kemas » ke.mas.an

  1. n (kata benda) hasil mengemas
  2. n (kata benda) bungkus pelindung barang dagangan (niaga)

dari kata dasar kemas, imbuhan -an, yang merupakan kata benda dengan dua istilah mengemas dan bungkus pelindung untuk barang/produk. Spesifik ke dalam kajian kemasan makanan maka, kemasan makanan merukakan pengamasan/bungkus pelindung untuk menjaga kondisi dari produk atau makanan yang kita pasarkan/produksi.



1.1 Pengertian Kemasan Secara Umum

↑ Daftar isi

Secara umum kemasan makanan yang kita pahami adalah wadah. Dasar pengertian umum ini yang kita pahami selama ini. Fungsi wadah sebagai kemasan adalah untuk melindungi apa yang ada di dalam wadah itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi dasar/basic dari kemasan adalah sebagai wadah yang melindungi isinya atau produk makanan di dalam wadah tersebut. 

#secara umum pengertian dari kemasan adalah wadah yang melindungi produk/makanan.

Packaging food atau pengemasan makanan merupakan kegiatan atau proses memberi wadah pada sebuah produk/makanan. Proses pengemasan makanan dapat diartikan menjadi sebuah sistem yang dirancang dan disiapkan sedemikian rupa untuk mempersiapkan produk makanan agar dapat didistribusikan, dijual, disimpan, dan digunakan/dikonsumsi.

Seperti yang sudah saya rumuskan/ ringkas pada pengantar artikel ini, bahwa dasar memberi kemasan pada produk adalah untuk melindungi/mencegah kerusakan  pada produk/makanan yang didistribusikan oleh produsen(1) dan sebagai sarana informasi dan pemasaran produk makanan tersebut(2).

#pengemasan makanan adalah proses /prosedur yang dirancang untuk ; 1) Melindungi/mencegah kerusakan pada produk/makanan dan 2)  Sarana informasi dan pemasaran produk makanan.



1.2 Pengertian Kemasan Menurut Ahli

↑ Daftar isi

Klimchuk dan Krasovec, berpendapat bahwa kemasan adalah desain kreatif yang mengaitkan bentuk, struktur, material, warna, citra, tipografi dan elemen-elemen desain terkait informasi produk agar produk dapat dipasarkan. Berdasarkan fungsi kemasan sendiri mereka berpendapat bahwa, kemasan digunakan untuk membungkus, melindungi, mengirim, mengeluarkan, menyimpan, mengidentifikasi dan membedakan sebuah produk di pasar (Klimchuk dan Krasovec, 2006:33).

Kotler danKeller merumuskan pengertian dari proses pengemasan sebagai kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Pengemasan adalah aktivitas merancang dan memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi utama dari kemasan adalah untuk menjaga produk Kotler & Keller (2009:27). Namun, berdasarkan tren saat ini Rangkuti berpendapat bahwa pengemasan/kemasan tidak hanya sebagai wadah/pelindung saja namun menjadi faktor yang cukup penting sebagai alat pemasaran (Rangkuti, 2010:132).



2. Sejarah Kemasan Makanan

↑ Daftar isi

Zaman kuno

Pengemasan produk makanan berkembang pesat setelah ditemukannya teknologi di ranah industri. Kemasan makanan pada zaman batu lebih digunakan untuk penyimpanan stok makanan, untuk perbekalan mereka menggunakan kulit hewan dan kayu, dan wadah nampan dari kayu atau batu untuk wadah. Pada 7000 SM kemasan makanan menggunakan tembikar dan kaca atau bahan-bahan alam.

Kemasan makanan pada zaman kuno menggunakan bahan alami yang tersedia oleh alam sekitar. Pada zaman kuno kemasan makanan menggunakan keranjang anyaman, kulit buah yang dikeringkan, kotak kayu, tembikar, kayu, tas anyaman dan lain sebagainya. Kemajuan pengolahan logam seperti perunggu merupakan awal tanda perkembangan dalam kajian pengemasan.

Penggunaan kertas sebagai pengemasan makanan paling awal dijumpai pada tahun 1035, diketahui dari catatan seorang wisatawan Persia saat mengunjungi pasar di Kairo, Mesir yang ditemukan pedang sayuran, rempah-rempah dan lainnya membungkus dagangan mereka dengan kertas.

Era Modern

Penggunaan kaca untuk pengemasan sudah ada sejak abad ke-18. Nicolas Appaert mengembangkan botol kaca dalam pengolahan makanan termal yang kemudian dikembangkan ke dalam kemasan kaleng/logam. Penggunaan botol kaca ditujukan untuk tentara Prancis untuk persediaan makanan. Pada 1870 lembaran kertas mulai dikembangkan dan dipatenkan. Pada tahun 1880-an sereal Quaker Oats pertama yang dikemas dalam kotak lipat.

Kemasan Kaleng, penggunaan kaleng sebagai kemasan makanan dimulai dari inggris oleh seorang insinyur bernama Andrew Yarranton dan Ambrose Crowley. Metode pengalengan diperbaiki oleh ahli besi termasuk Philp Foley. Pembuatan kaleng untuk kemasan mulai diproduksi masal di Pontypool oleh John Hanbury dengan sekala pabrik. Metode pelat dipelopori dengan menggunakan plat besi bergulir dengan bantuan silinder memungkinkan untuk menghasilkan pelat yang seragam dan lebih rapi. Tinplate box, pertama kali dijual dari pelabuhan Bristol Channel pada tahun 1725, dengan ekspedisi dari Newport, Monmouthshire. Di London mulai mengemas tembakau dalam tabung berlapis logam sejak tahun 1760.

Setelah ditemukan teknologi pengawetan makanan dengan metode pengemasan kedap udara yang dipelopori oleh Nicholas Appert, proses pengalengan dengan timah mulai berkembang dan dipercaya oleh konsumen sebagai pengemas makanan yang mereka konsumsi. Pemahaman lebih spesifik mengenai proses pengalengan sebagai kemasan makanan dapat diakses di artikel "Kemasan Logam".

Penemuan pembuka kaleng pada tahun 1855, meningkatkan penggunaan kaleng sebagai pengemas makanan. Pembuka kaleng memberikan kontribusi penting dalam perkembangan pengemasan makanan dengan bahan logam/kaleng.

Kemasan kertas, berkembang dari abad ke-16 dengan perbaikan modern di tahun 1839 kertas dikembangkan dengan inovasi karton lipat. Kertas bergelombang dipatenkan di inggris sebagai kemasan pada tahun 1817. Robert Gair menciptakan kertas karton siap rakit pada tahun 1890 dengan potongan lebih kecil yang siap dilipat menjadi kotak pengemas. Penemuan tersebut tidak disengaja, saat Robert Gair yang berprofesi sebagai seorang pencetak dan pembuat kantong kertas untuk kantong benih dan penggaris logam. Kesalahan pada proses potong mengakibatkan proporsi ukuran kertas yang lebih kecil, hal tersebut memberikan ide untuk mengolahnya menjadi kotak karton siap rakit.

Kantong kertas komersial pertama kali diproduksi di Bristol, Inggris, pada tahun 1844. Francis Woller mematenkan mesin pembuat kantong otomatis pada tahun 1852, yang menandai perkembangan kertas sebagai kemasan makanan diproduksi masal. Hal tersebut membuat kantong kertas berkembang pesat.

abad ke-20

Industri makanan berkembang pesat dikuti oleh kemasan makanan, di mana permintaan konsumen cukup tinggi karena kemudahan, efektivitas, dan kepraktisan. Perkembangan pesat pada kemasan makanan seperti pada tutup botol, penutup plastik transparan, dan panel pada karton. Inovasi ini meningkatkan efisiensi pemrosesan dan keamaan pangan, seperti penggunaan almunium dan beberapa jenis plastik olahan untuk bahan pendukung dan pelindung kinerja dan fungsionalitas kemasan makanan.

Michigan State Univerity menjadi universita pertama di dunia yang menawarkan gelar di bidang Teknik Pengemasan. Kajian pada bidang pengemasan merupakan hal penting, selain untuk strategi pemasaran juga tidak kalah penting pada fase pasca-penggunaan (daur ulang). Daur ulang sudah menjadi hal umum untuk memproduksi bahan kemasan. Daur ulang pada pengemasan makanan merupakan hasil dari kesadaran dan kepedulian konsumen akan ekositem lingkungan. Regulasi aturan yang ketat dari pemerintah terkait produksi makanan membuat para produsen kemasan lebih bijak dalam memilih bahan pengemas. Selain itu dalam segi ekonomis, produsen kemasan makanan lebih diuntungkan untuk memangkas biaya produksi.

Inovasi makanan berkembang pesat dipelopori bidang militer, terkait distribusi dan efektivitas dalam berpindah lokasi dan tempat tinggal hal ini berkaitan dengan Perang Dunia I dan Perang Dunia ke II. Kemasan berkembang dengan adanya inovasi efektif pada bidang studi yang mendukung para militer saat bertugas. Adaptasi ke kemasan konsumsi masyarakat luas membuat beberapa kemasan makanan mengalami perubahan dan perkembangan menunjang efektifitas dan nilai ekonomis.

Pada tahun 2003, sektor pengemasan menyumbang sekitar dua persen dari bruto produk nasional di negara-negara maju. Hal perkembangan dan penyumbang keuangan negara tersebut dikarenakan pertumbuhan dan perubahan pola hidup masyarakat global yang menuntut ketersediaan makanan kemasan karena kepraktisan dan tuntunan gaya hidup yang serba cepat.



3. Fungsi Kemasan Makanan

↑ Daftar isi

Fungsi kemasan makanan secara ringkas dapat kita pahami untuk melindungi produk makanan di dalamnya. Namun ada beberapa fungsi-fungsi kemasan makanan lainya dalam berbagai aspek tinjauan sebuah perusahaan industri makanan. Aspek-aspek tersebut yang menjadi bahan pertimbangan yang penting dari sebuah perusahaan dalam memilih, mendesain, merancang dan menentukan strategi marketing dalam hal pengemasan produk makanan. Dalam bagian ini saya akan merumuskan apa saja fungsi kemasan makanan yang ada dalam bisnis dan industri makanan.  

Untuk merumuskan fungsi kemasan makanan saya mengkutip beberapa klasifikasi fungsi makanan dari berbagai sumber, beberapa kutipan sumber saya paparkan sebagai berikut;

Packaging dan pelabelan makanan memiliki beberapa fungsi, berdasarkan jurnal Marsh, K (2007) dan Bix, L; Nora Rifon; Hugh Lockhart; Javier de la Fuente (2003) diperoleh delapan fungsi dari pengemasan dan pelabelan makanan. Fungsi-fungsi kemasan makanan secara ringkas sebagai berikut;

A. Physical protection

Melindungi makanan dari tekanan, goncangan, bakteri, getaran, temperatur suhu dan lain-lain, selama proses pengiriman dan penyimpanan.

B. Barrier protection

Pelapis/penahan untuk memisahkan dan mengkondisikan keadaan produk/makanan dari kerusakan yang diakibatkan oleh udara, air, debu dan lain sebagainya. Beberapa paket terkadang berisi pengering atau kedap udara untuk membantu memperpanjang umur produk yang disimpan. Dalam paket sebuah makanan sebuah wadah didesain sedemikian rupa untuk memisahkan keadaan luar dengan kondisi di dalam wadah atau kemasan. Hal tersebut memungkinan makanan atau produk di dalamnya tetap bersih, segar dan terlindung selama proses pengiriman atau penyimpanan. 

C. Containment or agglomeration

Penopang barang-barang atau produk makanan yang berukuran kecil kedalam sebuah paket sehingga memudahkan dalam proses pengiriman atau satuan ukur nilai konsumsi. Dalam proses pengemasan makanan berukuran kecil perlu adanya penopang/wadah untuk memudahkan proses pengiriman dan identifikasi jumlah dari produk makanan tersebut, hal ini memudahkan produsen untuk menglompokan setiap barang kedalam kelompok atau nilai jual tertentu. Proses pengelompokan lebih efisen terhadap produk makanan berukuran kecil, seperti biji kopi, gula, beras dll ke dalam karung atau kantong dengan ukuran kilogram atau ons. Hal tersebut memudahkan konsumen dan produsen untuk menentukan nilai dari sebuah produk, terlepas dari proses penyimpanan dan pengiriman.

Barang atau produk makanan berukuran kecil ini biasanya dikelompokkan bersama dalam satu paket untuk memudahkan distribusi ke konsumen. Produk-produk tersebut dapat berupa cairan, bubuk , dan bahan butiran yang membutuhkan penopang untuk menjaga mereka tetap dalam satu kelompok yang sudah ditentukan dari awal proses kemas.

D. Information transmission

Kemasan dan label memiliki fungsi penting dalam mengkomunikasikan info penting dari produk yang ada di dalamnya. Informasi tersebut dapat berupa cara penggunaan, proses atau cara mengangkut, mendaur ulang, atau membuang kemasan/produk makanan. Beberapa jenis informasi seperti bahan-bahan kandungan dalam produk tersebut, nutrisi, dan terkadang informasi seperti label halal diperlukan oleh konsumen dalam menentukan produk makanan yang akan dikonsumsi.

Aturan resmi dari pemerintah terkait standart penggunaan atau legalitas. Pada pengertian ini pemerintah ikut serta memberikan standart pada setiap produk makanan, seperti BPOM, kode produksi, tanggal kedaluarasa dan lain-lain merupakan hal penting yang perlu disematkan dalam sebuah label atau pengemasan makanan/produk tersebut.

E. Marketing

Pengemasan dan pemberian label pada makanan dapat digunakan oleh produsen untuk mendorong calon konsumen untuk membeli produk. Penyajian makanan yang estetis dan menarik dapat mendorong konsumen untuk mempertimbangkan isi dalam kemasan tersebut, hal ini terkait dengan desain kemasan makanan. Desain kemasan makanan terus berkembang setiap dekade dan telah menjadi fenomena penting dalam industri makanan.

Komunikasi pemasaran dan desain grafis menjadi ujung tombak sebuah produk untuk menarik minat calon konsumen untuk membeli atau menggunakan produk makanan tersebut. Keduannya sangat berperan dalam branding image sebuah produk, sehingga strategi yang dirumuskan sesuai dengan apa yang ditangkap oleh konsumen. Warna kemasan memainkan peran penting dalam membangkitkan emosi untuk membujuk konsumen membeli sebuah produk makanan.

F. Security

Pengemasan turut membantu mengurangi risiko keamanan dalam proses pengiriman. Kemasan atau pelabelan dapat didesain sedemikian rupa untuk meningkatkan ketahan terhadap gangguan, pencurian paket, pemalsuan, dan lain sebagainya. 

Kemasan didesain dengan kelengkapan segel membantu menunjukan kondisi isi produk makanan, apakah layak dikonsumsi atau keaslian dari produk tersebut. Hal tersebut tentu membantu konsumen untuk terhindar dari kerugian dan menjaga kepercayaan konsumen terhadap kondisi keaslian isi produk.

G. Convenience

Kemasan dapat memiliki fitur yang menambah kenyamanan dalam distribusi , penanganan, penumpukan, tampilan, penjualan, proses membuka, penutupan kembali, dan penggunaan kembali.

Efektivitas dan kenyamanan merupakan satu hal yang perlu diperhatikan dalam ekspedisi sebuah produk makanan ke berbagai wilayah ditribusi produk tersebut. Hal pengangkutan dan kekuatan saat ditumpuk turut serta membantu mempertahankan kualitas atau kelayakan produk yang akan dipasarkan. 

Dalam hal kenyamanan konsumen, turut serta menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain sebuah kemasan makanan yang mudah untuk dibuka dan ditutup kembali. Hal ini merupakan hal penting terkait efektifitas sebuah wadah untuk melindungi produk makanan dari proses kemas sampai produk tersebut habis dikonsumsi.  

H. Portion control

Kemasan dalam satu porsi memiliki jumlah produk yang tepat dalam hal penggunaan. Misalnya seperti garam dapat dibagi ke dalam berbabagi kemasan dengan ukuran yang lebih sesuai untuk setiap masing-masing kebutuhan rumah tangga, industri makanan, warung dan restoran. Contoh lain seperti susu dalam kemasan botol satu liter tertutup, daripada konsumen membawa wadah mereka dengan ukuran yang berbagai macam untuk diisi. Porsi setiap produk dalam kemasan botol susu satu liter lebih mudah untuk nilai jual dan porsi setiap pembeli.

Bilson Simamora (2007) mengemukakan pengemasan mempunyai dua fungsi yaitu fungsi protektif dan promosional;

A. Fungsi Protektif

Terkait dengan proteksi produk, perbedaan iklim, prasarana transportasi, dan saluran distribusi yang semua berimbas pada pengemasan. Dengan pengemasan protektif, para konsumen tidak perlu harus menanggung risiko pembelian produk rusak atau cacat. 

B. Fungsi Promosional

Peranan kemasan pada umumnya didasarkan pada perlindungan produk/makanan tersebut. Namun tidak kalah penting peran kemasan juga digunakan sebagai sarana promosional. Menyangkut promosi, perusahaan mempertimbangkan preferensi konsumen menyangkut warna, ukuran, dan penampilan.

Pada dasarnya Bilson Simamora membagi dua fungsi utama, terkait proteksi (ketahanan) produk/makanan dan promosional (marketing). Sedangkan menurut Kotler (1999:228), terdapat empat fungsi kemasan sebagai satu alat pemasaran, yaitu :

A. Self service

Kemasan makanan berfungsi dalam proses penjualan, dimana kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang mendukung produk makanan. Fungsi kemasan makanan dalam meningkatkan penjualan memang menjadi bahan pertimbangan yang harus diperhatikan oleh produsen dalam menjamin produknya layak konsumsi dan bersaing dengan produk-produk seklasnya.

B. Consumer offluence

Konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.

C. Company and brand image

Perusahaan mengenal baik kekuatan yang dikandung dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenali perusahaan atau merek produk. Brand image sangat berkaitan erat dengan komunikasi penjualan dan desain grafis (desain kemasan). Pemilihan warna dalam desain kemasan sangat mempengaruhi tingkat ketertarikan konsumen untuk membeli dan mewakili identitas dari produk yang dijual.

D. Inovational opportunity

Desain kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen dan juga memberi keuntungan bagi produsen. Merancang desain kemasan makanan merupakan hal yang memerlukan riset dan berbagai prosedur untuk menghasilkan dan memutuskan konsep sebuah kemasan. Kemasan yang inovatif mampu meningkatkan nilai jual dan kepercayaan konsumen pada sebuah produk makanan yang dikemas di dalamnya



4. Jenis Kemasan Makanan

↑ Daftar isi

Jenis kemasan makanan diklasifikasi berdasarkan; 

  1. Struktur isi,
  2. Frekuensi pemakaian, dan
  3. Tingkat kesiapan pemakaian. 

Klasifikasi jenis kemasan makanan dikelompokan pada setiap masing-masing peran, frekuensi dan kesiapan sebuah kemasan, berikut pemaparan setiap klasifikasi jenis kemasan makanan tersebut;

A. Sktuktur Isi

Berdasarkan struktur isi, jenis kemasan makanan dibagi menjadi tiga (3) jenis;

1) Kemasan Primer, klasifikasi jenis kemasan makanan primer dikelompokkan berdasarkan bahan kemas yang secara langsung mewadahi produk makanan. Kemasan primer secara langsung mengemas dan wadah bahan pangan secara langsung tanpa ada bahan tambahan lain misalnya, botol minuman, kertas, kaleng susu, plastik dan lain-lain.

2) Kemasan Sekunder, merupakan kemasan makanan yang memiliki fungsi utama untuk melindungi kelompok kemasan primer (lainnya). Kemsan sekunder memiliki tujuan untuk melindungi wadah/kemasan primer, yang memiliki ciri-ciri fisik lebih kokoh dan solid dibandingkan dengan kemasan primer walaupun terkadang ditemukan kemasan primer yang tidak memerlukan kemasan sekunder sebagai pelindung tambahan. Beberapa kemasan sekunder dapat kita temukan pada kemasan kotak karton, kotak kayu untuk buah-buahan, dan lain-lain.

3) Kemasan Tersier, merupakan kemasan dengan fungsi utama untuk menyimpan, pengiriman dan identifikasi. Kemasan tersier digunakan untuk pelindung/pelapis selama distribusi atau proses pengiriman produk makanan, fungsinya untuk mempertahankan kualitas, kelayakan dan higienitas sebuah makanan selama pengangkutan dan penyimpanan di gudang. 

Berikut contoh-contoh jenis kemasan dikelompokkan berdasarkan struktur isi;

Jenis Kemasan Berdasarkan Strukur Isi

Kemasan Jenis kemasan Penggunaan dalam produk
Pengemasan Antiseptik Kemasan Primer yogurt, salad, mayones, susu, jus, krim, sayuran, buah, makanan bayi, dan lain-lain.
Nampan Kemasan Primer ikan, minuman gelas, kopi, dan lain-lain.
Tas, kantong Kemasan Primer keripik, sayur-sayuran, buah, beras, gandum, kopi, dan lain-lain.
Kotak Kemasan Sekunder pelindung luar seperti peti, telur, dan lain-lain.
Kaleng Kemasan Primer sarden, minuman bersoda, jus, saos tomat, sup, biskuit, kerupuk dan lain-lain.
Karton , kertas berlapis Kemasan Primer mie instan, biskuit, roti kering, susu, mie kering, dan lain-lain.
Palet Kemasan Tersier kemasan pelindung telur, susu, buah, sayur, 
Wrappers Kemasan Tersier pembungkus palet, pelindung buah dan lain-lain.

Klasifikasi/ kategori kemasan berdasarkan struktur isi ini kemungkinan rancu, luas maknanya, dan kurang akurat. Misalnya, pada penggunaannya, shrink wrap atau plastik dapat menjadi kemasan primer bila diaplikasikan langsung ke produk, kemasan sekunder bila digunakan untuk menggabungkan kemasan yang lebih kecil, atau kemasan tersier bila digunakan untuk memfasilitasi beberapa jenis distribusi atau selama penyimpanan, seperti contoh penggunaan wrapper untuk melindungi palet (kotak) yang juga termasuk kemasan primer saat digunakan untuk pelindung sayuran atau buah. 

B. Frekuensi Pemakaian

Berdasarkan frekuensi pemakaian,  kemasan makanan dikelompokkan menjadi tiga (3) jenis, yaitu:

1) Kemasan sekali pakai (Disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu kali pakai. 

2) Kemasan yang dapat dipakai berulang kali (Multi Trip), kemasan jenis ini umumnya tidak dibuang oleh konsumen, namun dikembalikan lagi pada produsen penjual untuk kemudian dimanfaatkan ulang oleh pabrik. 

3) Kemasan yang tidak dibuang (Semi Disposable), kemasan ini biasanya memiliki struktur solid dan memiliki efektifitas untuk digunakan kembali dengan fungsi sama atau berbeda dengan fungsi sebelumnya. Sering kali setelah barang konsumsi habis, kemasan tidak dibuang digunakan untuk kepentingan/fungsi lain di rumah konsumen sebagai wadah atau hiasan. 

Penggunaan Jenis Kemasan Berdasarkan Frekuensi Pemakaian
Kemasan sekali pakai (disposable) bungkus plastik, daun, kaleng, wraper, kardus karton, kertas.
Kemasan dipakai berulangkali (multi trip) botol susu, botol kecap, botol sirup, kantong dari bahan goni, 
Kemasan tidak dibuang (semi disposable) kantong goni, kaleng biskuit, kaleng susu, gelas, wadah permen berbahan kaca.


C. Tingkat Kesiapan Pemakaian

Berdasarkan tingkat kesiapan pemakaian,  kemasan makanan dikelompokkan menjadi dua (2) jenis, yaitu:

1) Kemasan siap pakai, merupakan kelompok kemasan siap pakai yang diproduksi oleh pabrik makanan itu sendiri atau perusahan khusus pengemas. Kelompok kemasan siap pakai biasanya tidak memerlukan perakitan atau bahan lain untuk digunakan dalam pengemasan, pada dasarnya kemasan ini sudah siap untuk digunakan mengemas produk makanan.  

2) Kemasan siap dirakit, kelompok kemasan yang memerlukan prosedur perakitan sebelum digunakan untuk mengemas produk makanan. Kemasan ini biasanya berbahan dasar, digunakan dalam proses pengemasan produk makanan berukuran khusus, tidak tersedia produk kemasan serupa atau memerlukan biaya dan dianggap lebih efisien untuk produk tertentu.  

Berikut tabel informasi perbandingan dan contoh jenis kemasan berdasarkan tingkat kesiapan pemakaian;

Kemasan siap pakai Kemasan siap rakit
botol kaleng lempengan almunium
kaleng sarden / sup kertas
karung goni almunium foil
gelas plastik
styrofoam daun pisang
botol plastik palet
kaleng biskuit plastik wrap
botol kaca kardus/karton


5. Label Identitas dan Simbol dalam Kemasan Makanan

↑ Daftar isi

Banyak jenis simbol pelabelan paket berstandar nasional dan internasional. Untuk kemasan konsumen, terdapat simbol untuk sertifikasi produk (seperti tanda FCC dan TÜV ), merek dagang, bukti pembelian , dan lain sebagainya. Beberapa persyaratan dan simbol ada untuk mengkomunikasikan aspek hak dan keselamatan konsumen, misalnya tanda CE atau tanda perkiraan yang mencatat kesesuaian dengan bobot UE dan mengukur regulasi akurasi. Contoh simbol lingkungan dan daur ulang termasuk simbol daur ulang , kode daur ulang (yang dapat berupa kode identifikasi resin ), dan"Titik Hijau" . Kemasan makanan mungkin menunjukkan simbol bahan kontak makanan . Di Uni Eropa , produk asal hewan yang dimaksudkan untuk dikonsumsi manusia harus memiliki identifikasi EC standar berbentuk oval dan tanda kesehatan untuk alasan keamanan pangan dan jaminan kualitas.

Kode bar , Codes Universal Product , dan RFID label yang umum untuk memungkinkan manajemen informasi otomatis di logistik dan ritel. Beberapa produk mungkin menggunakan kode QR atau kode batang matriks serupa . Kemasan mungkin memiliki tanda registrasi yang terlihat dan kalibrasi pencetakan lainnya serta petunjuk pemecahan masalah.

Label Informasi Isi

Pada kemasan makanan, aspek pelabelan kemasan konsumen harus tunduk pada peraturan setiap masing-masing negara. Informasi seperti berat, volume dan jumlah merupakan hal penting dalam proses pengiriman dan konsumsi masyarakat. Proses pengiriman produk makanan antar negara harus mematuhi aturan mengenai label kemasan makanan terkait informasi isi kuantitas sebuah produk dan regulasi lainnya. Konsumen sangat memerlukan informasi yang mewakili isi dari kemasan tersebut. Label di mata konsumen harus mencerminkan keakuratan isi kemasan makanan, terkait bahan kandungan, nutrisi, halal, POM, tanggal kedaluarsa dan lain sebagainya. Setiap produsen dan pengemas harus memiliki prosedur jaminan kualitas yang efektif, peralatan yang akurat, dan setiap prosedur lain selama proses pengemasan.

Label Informasi Proses Distribusi/penyimpanan

Teknologi yang terkait dengan kontainer pengiriman adalah kode identifikasi, kode batang , dan pertukaran data elektronik ( EDI ). Ketiga teknologi inti ini berfungsi untuk mengaktifkan fungsi bisnis dalam proses pengiriman peti kemas di seluruh jalur distribusi. Masing-masing memiliki fungsi penting: kode identifikasi menghubung kan informasi produk atau berfungsi sebagai kunci untuk data lain, kode batang memungkinkan untuk input otomatis kode identifikasi dan data lainnya, dan EDI memindahkan data antara mitra dagang dalam saluran distribusi. Elemen teknologi inti ini termasuk kode identifikasi item UPC dan EAN , SCC-14 (kode kontainer pengiriman UPC), SSCC-18 (Serial Shipping Container Codes), Interleaved 2-of-5 dan UCC / EAN-128 (baru ditunjuk GS1-128 ) simbologi kode batang , dan standar ANSI ASC X12 dan UN /EDIFACT EDI.

Operator parsel kecil sering kali memiliki formatnya sendiri. Misalnya, United Parcel Service memiliki kode MaxiCode 2-D untuk pelacakan paket. Label RFID untuk kontainer pengiriman juga semakin banyak digunakan. Sebuah Wal-Mart divisi, Club Sam , juga telah bergerak ke arah ini dan menempatkan tekanan pada pemasok untuk mematuhi.

Pengiriman bahan berbahaya atau barang berbahaya memiliki informasi dan simbol khusus (label, plakat, dll.) Seperti yang dipersyaratkan oleh PBB, negara, dan persyaratan pengangkut tertentu. Pada paket transportasi, simbol standar juga digunakan untuk mengkomunikasikan kebutuhan penanganan. Beberapa didefinisikan dalam ASTM D5445 "Praktik Standar untuk Penandaan Bergambar untuk Penanganan Barang" dan ISO 780 "Penandaan bergambar untuk penanganan barang".

Jenis Pelabelan Kemasan Makanan

Label pada kemasan makanan bergam berdasarkan jenis dan fungsi dari setiap simbol atau label. Fungsi-fungsi tersebut informasi terkait; nutrisi, merek dagang, tanggal kedaluarsa, simbol kelayakan makanan, klaim kesehatan, klaim halal, vegan, jenis pertanian/pengolahan, indikasi negara asal, standar sebelum konsumsi (kocok dahulu), informasi keselamatan, dan perlakuan khusus saat ekspedisi dan pemyimpanan.

Bedasarkan fungsi kemasan makanan sebagai informasi dan identitas produk, maka sering kali kita menemukan produk makanan dengan kemasan memiliki simbol informasi mengenai pengangkutan, informasi kandungan gizi, barcode dan lain sebagainya. 


Referensi


  • Bix, L; Nora Rifon; Hugh Lockhart; Javier de la Fuente (2003). The Packaging Matrix: Linking Package Design Criteria to the Marketing Mix. IDS Packaging. 
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI daring)
  • Klimchuk, Marianne dan Sandra A. Krasovec. 2006. Desain Kemasan. Jakarta: Erlangga.
  • Kotler dan Keller. 2009. Manajemen Pemasaran. Jilid I. Edisi ke 13. Jakarta: Erlangga.
  • Kotler, Philip. 1999. Manajemen Pemasaran. Jilid II. Edisi Milenium. Jakarta: Prenhallindo.
  • Marsh, K (2007). "Food Packaging—Roles, Materials, and Environmental Issues". Journal of Food Science. 72 (3): 39–54. 
  • Rangkuti, Freddy. 2005. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia.
  • Simamora, Bilson. 2007. Panduan Riset dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia.
  • Vitobele, 2015. Kemasan Logam., 2016.

Popular posts from this blog

Kemasan Logam

4 Ide Kursi dari Kayu Palet Bekas

Rilis Film Luar Negeri Terbaru Tahun 2017