Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional 


Kecerdasan Emosional

A. Pengertian kecerdasan emosional

    Menurut Salovey dan Mayer (Stein dan Book, 2004), kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, mengendalikan perasaan sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Salovey juga menambahkan bahwa ada lima kemampuan dalam kecerdasan emosi yaitu, 1) mengenal emosi diri, 2) mengelola emosi, 3) memotivasi diri sendiri, 4) mengenal emosi orang lain, dan 5) membina hubungan. Taylor (2001) berpendapat bahwa dengan adanya kemampuan yang terkandung dalam kecerdasan emosi dapat mengatasi lebih baik tantangan yang ada dalam hidup dan tekanan dalam pekerjaan, yang berpengaruh pada psikologis yang lebih baik dan kesehatan tubuh. Barron (1997) perpendapat bahwa kecerdasan emosi membantu individu untuk mengatur tekanan dalam pekerjaan dan meningkatkan penyesuaian pada tatanagan yang ada di lingkungan sehingga dapat terhindar dari keadaan yang tidak menyenangkan dan "burnout". Pentingnya kecerdasan emosi dibuktikan dengan hasil penelitian Goleman dan beberapa riset di Amerika bahwa kecerdasan intelektual hanya memberi kontribusi 20% terhadap  kesuksesan hidup seseorang. Sedangkan Sisanya 80% bergantung pada kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritualnya. Dalam keberhasilan kerja kecerdasan hanya berkontribusi 4% (iyus Yosep, 2005 dalam Triastity dan Ariyanto 2011). Menurut Dulewicz dan Higgs, kecerdasan emosional bukan diturunkan secara genetik kepada anak, namun dapat dipelajari dan dikembangkan baik melalui pendidikan formal maupun melalui pengalaman hidup sehari-hari.
    Menurut Domasio, emosi berperan besar terhadap suatu tindakan bahkan pengambilan keputusan "rasional". Kecerdasan emosional yang berperan tinggi akan membantu individu dalam mengatasi konflik secara tepat dan menciptakan kondisi kerja yang menggairahkan sehingga menghasilkan prestasi kerja yang tinggi pula. Sedangkan kecerdasan emosional yang rendah akan berdampak buruk pada mereka, karena individu kurang dapat mengambil keputusan secara rasional dan tidak bisa menghadapi konflik.
    Menurut Daniel Goleman (2007), kecerdasan emosional adalah kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapu frustasi; mengendalikan dorongan dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.
    Menurut Salovey dan Syuter (dalam Goleman, 2007), kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengenali emosi, menilai dan menghasilkan emosi yang dapat membantu pikiran memahami emosi dan arti emosional serta menhatur emosi secara efektif sehingga dapat meningkatkan kemampuan emosi dan pikiran.
    Berdasarkan beberapa pengertian tentang kecerdasan emosional, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, mengenali perasaan serta memahami perasaan dan maknanya, bertahan mengadapi frustasi; memahami perasaan dan maknanya, bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan emosi secara efektif serta menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa sehingga meningkatkan kemampuan emosi dan pikiran.

Aspek Kecerdasan Emosi


    Goleman (1998) berpendapat bahwa EQ bekerja pada arena multidimensional yang didalamnya terdapat lima aspek seperti;
1. Mengenal emosi diri (Self-awareness)
    Mengenali emosi diri berhubungan dengan kesadaran emosional, penilaian terhadap diri sendiri yang akurat dan kepercayaan diri. Menyadari diri dalam mengenal perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Ketidak mampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya, emembuat individu tersebut akan dikuasi oleh perasaan. Individu tersebut tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya dan akan berakibat buruk ketika [engambilan keputusan masalah.
2. Mengelola emosi (self regulation)
Mengelola emosi berhubungan dengan kontrol diri, sifat yang dapat dipercaya, menggunkan hati nurani, kemampuan beradaptasi, dan melakukan pembahruan. Pengelolaan diri mengandung arti bagaimana seseorag mengelola diri dan perasaan-perasaan yang dialamninya
3. Memotivasi diri (motivation)
memotivasi diri merujuk pada dorongan untuk berprestasi, komitmen, inisiatid dan optimis. Kemampuan untuk memotivasi ini berguna mencapai tujuan jangka panjang, mengatasi kesulitan yang dialami bahkan melegakan kegagalan yang terjadi (Brahmana, 2013). Individu juga memiliki kekuatan berpikir positif dan mencurahkan perhatian (fokus) pada suatu objek untuk ememotivasi dirinya (ZAhara 2012)
4. Mengenal emosi orang lain (empathy)
mengenal emosi orang lain merujuk pada memahami dan mengembangkan orang lain, memberikan bantuan, menerima keberagaman dan kesadaran politik. Kemampuan ini dibangun dari kesadaran dan memposisikan diri memiliki emosi yang sama dengan emosi orang lain akan membanru membaca dan memahami perasaan orang lain (Brahmana, 2013)
5. Membina hubungan dengan orang lain (social skill)
Membina hubungan dengan orang lain berhubungan dengan memeberikan pengaruh, cara berkomunikasi, manajemen konflik, kepemimpinan, membangun ikatan, dapat berkolaborasi dan bekerja sama, dan memiliki kemampuan bekerja dalam tim. Kemampuan ini juga dapat dipelajari seseorang sejak kecil mengenai pola-pola berhubungan dengan orang lain (Brahmana 2013. Berdasarkan skala tentang kecerdasan emosi (Brahmana, 2013) yang memaparkan tentang makna yang terkandung pada setiap aspek-aspek kecerdasan emosi, pengelolaan diri mengandung arti bagaimana seseorang mengelola diri dan perasaan-perasaan yang dialaminya.

Faktor-fator yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi

Beberapa faktro yang mempengaruhi kecerdasan emosional (Qurniyawati dan Budi, 2010)
1. Usia
    Usia merupakan salah satu hal yang mempengaruhi emosi seseorang (freund dan Baltes; Sariadarma dan waru, 2003). Usia merupakan salah satu indikator yang harus dipertimbangkan dalam mengevaluasi kecerdasan seseorang. Perubahan pengalaman hidup sangat mempengaruhi kondisi emosi sesorang. Januarsari dan Murtanto (2000) menambahkan usia yang semakin matang membantu terciptanya kesetabilan emosi dan cenderung lebih handal dalam memecahkan permasalahan secara relalistis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semakin bertambahnya usia seseorang, maka kecerdasan emosinya semakin terlatih untuk memecahkan permasalaha.

2. Budaya dan Tingkat Sosial Ekonomi

    Budaya dan kondisi sosial ekonomi sangat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Seseorang dapat mengendalikan emosinya akan mengalami banyak perubahan apabila pindah tempat tinggal atau tinggal atau jika kondisi sosial ekonominya mengalami perubahan.

3. Keadaan Keluarga
    Hasil penelitian Ulpatusalicha (2009) menunjuknan bahwa keadaan kelurga menyumbang pengaruh terhadap kecerdasan emosional anak. terutama pada kasus single parents, akan berdampak pada anak, yaitu kecenderungan anak yang tidak dapat mengontrol diri, kecewa, frustasi, melawan peraturan, memberontak, kurang konsentrasi, murung, merasa bersalah, mudah marah, kurang motivasi, iri, ketidak stabilan emosi, dan kurang percaya diri.

    Hurlock (1993) mengemukakan tiga faktor yang mempengaruhi emosi yaitu,
1, Kondisi fisik
    Apabila keseimbangan tubuh tergangu karena kelelahan, kesehatan yang buruk atau perubahan yang berasal dari perkembangan, maka akan mengalami emosionalitas yang meninggi. Biasanya orang berada dalam keadaan leleah akan menjadi cepat tersinggung atau mmarah apabila ada yang mengusiknya.

2, Kondisi Psikologis
    Pengaruh psikologis yang penting, antara intelegensi, tingkat aspirasi dan kecemasan. Tingkat Intelegensi seseorang berhubungan dengan kemampuannya mengendalikan emosi. Kegagalan mencapai tingkat aspirasi yang timbul berulang dapat membuat keadaan cemas dan tidak berdaya. Kecemasan setalah pengalaman emosional tertentu yang kuat akan membuat mereka kepada setiap situasi yang dirasakan mirip dan mengancam.

3. Kondisi Lingkungan
    Kondisi lungkungan yang daoat mempengaruhi keadaan emosi, misalnya ketegangan yang terus-menerus, jadwal yang terlalu banyak pengalaman menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan.

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam peningkatan kecerdasan emosi menurut Agustin (2012) yaitu,
1. Faktor Psikologis
    Faktir psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu, faktor internal ini akan membantu individu dalam mengolah, mengontrol, mengendalikan dan mengkoordinasikan keadaan emosi agar termanifestasi dalam perilaku secara efektif.

2. Faktor Pelatihan Emosi
    Kegiatan yang dilakukan secata berulah-ulah akan menciptakan kebiasan, rutin tersebut akan menghasilkan pengalaman yang berujung pada pembentukan nilai (value). Reaksi emosional apabila diulang-ulang pun akan berkembang menjadi suatu kebiasaan, pengendalian diri tidak akan muncul begitu saa tanpa dilatih.

3. Faktor Pendidikan
    Pendidikan dapat menjadi salah satu sarana belajar individu untuk mengembangkan kecerdasan emosi. Individu mulai dikenalkan dengan berbagai bentuk emosi dan bagaimana mengelolanya melalui pendidikan. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sistem pendidikan di sekolah diharapkan mampu mendidik individu untuk memiliki kejujuran, komitmen, cisi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, kepercayaan, penguasaan diri atau sinergi, sebagian bagian dari pondasi kecerdasan emosi.


B. Pemecahan Masalah


1. Pengertian Pemecahan Masalah
    Anderson (via suharman 2005) mendefinisikan masalah sebagai suatu kesenjangan antara situasi sekarang dengan situasi yang akan datang atau tujuan yang diinginkan. Adanya berbagai masalah yang muncul di dalam kehidupan, seorang dituntut untuk berpikir dan mencari penyelesaiannya atau dikenal dengan pemecahan masalah (problem sloving). Begitu pula yang disampaikan oleh Chaplin (1999) yaitu proses menemukan urutan yang benar dari alternatif jawaban, mempengaruhi pada suatu sasaran atau ke arah pemecahan yang ideal adalah problem sloving. Proses ini dapat membantu seseorang untuk menemukan apa yang mereka inginkan dan bagaimana mencapainya dengan cara yang paling efektif. Seseorang dianggab sebagai pemecahan masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih menggunakan berbagai alternatid strategi sehingga mampu mnegatasi masalah tersebut (Lidinillah 2008).
    Menurut Polya (via lasmahadi) pemecahan masalah diartikan sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu segera dapat dicapai. Menurut Hunsaker ( via Lasmahadi, 2005) pemecahan masalah adalah suatu proses penghilangan atau ketidak sesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan. selain itu, Hunsaker mengatkan bahwa salah satu bagian dari proses pemecahan masalah adalah pengambilan keputusan yang tidak akan mempengaruhi kualitas hasil dari pemecahan masalah.
    Menurut Santrok (via Wijayanti 2013) pemecahan masalah adalah suatu proses kognitif dalam mencari solusi atau cara penyelesaian yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. Menurut Solso (2007) pemecahan masalah adalah suatu pemikiran yang terarah secara langsung untuk menemukan suatu solisi, jalan keluar untuk suatu masalah spesifik.
    Menurut Dixon dan Glover (via Ayu 2012) beberapa hal yang menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan masalah adalah;
a. Beberapa orang mungkin tidak pernah belajar bagaimana menghadapi suatu masalah dengan baik.
b. Orang tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sudah memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
c. Mereka kehilangan semangat untuk mengatasi masalahnya, dan berharap hanya dengan sedikit usaha saja ia dapat menemukan jalan keluarnya dibandingkan dengan menghadapi masalahnya secara efektif sehingga ia sudah bisa menghadapinya dengan ketidak berdayaan.
d. Adanya kecemasan yang berlebihan atau masalah emosi yang lain.

    Berdasarkan beberapa pengertian tentang pemecahan masalah, maka dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah adalah suatu proses kognitif yang terarah secara langsung untuk menemukan suatu solusi, jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik dengan cara yang paling efektif.

2. Langkah-langkah Memecahkan Masalah

    Menurut Polya (via Rizki 2013) terdapat suatu indikator-indikaror yang dapat mencerminkan kemampuan pemecahan masalah melalui empat langkah pemecahan masalah, yaitu:

a. Memahami masalah
    Dalam merumuskan masalah, kemampuan yang diperlakukan adalah kemampuan mengetahui dan merumuskan suatu masalah. Mahasiswa dapat dikatakan memahami masalah, jika dapat menjawab pertanyaan 1) Apakah yang ditanyakan? 2) Apakah data yang diketahui? 3) Apakah datanya cukup untuk memecahkan masalah tersebut? 4) Pisahkan syarat-syaratnya jika ada. dapatkah anda menuliskan kembali masalhnya dengan lebih sederhana?

b. Merencanakan Penyelesaian
    Mahasiswa dikatakan dapat merencanakan pemecahan pada suatu masalah jika dapat menjawab pertanyaan seperti 1) Apa yang harus dilakukan? Pernakah mengalami masalah tersebut? 2) Tahukah masalah yang lain terkait dengan masalah ini? Adakah teorema yang bermanfaat untuk digunakan? 3) Jika pernah mengalami maslah serupa, dapatkah strategi atau cara pemecahan digunakan pada masalah ini? 4) Apakah pernah melihat masalah yang sama tetapi dalam bentuk berbeda? 5) Apakah pernah mengalami permasalahan lain yang terkait? 6) Bagaimana strategi pemecahan yang terkait?

c. Melaksanakan rencana
    Mahasiswa dikatakan dapat melaksanakan rencana pemecahan masalah apabila dapat menjawab pertanyaan berikut: 1) Apakah melaksanakan rencana pemecahan masalah yang sidah dipilih dengan setiap kali mengecek kebenaran di setiap langkah? 2) Apakah langkah yang digunakan sudah benar? 3) dapatkah membuktikan atau menjelaskan bahwa langka itu benar?

d. Memeriksa Kemballi
    Mahasiswa dikatakan sudah memeriksa kembali pekerjaannya, apabila dapat menjawab pertanyaan berikut: 1) Apakah sudah diperiksa semua hal yang didapat? 2) Apakah argument yang digunakan benar? 3) Dapatkah mencari hasil yang berbeda? 4) Adakah cara lin untuk memecahkannya?  Menurut Haris ( via 2010) proses pemecahan masalah meliputi langkah-langkah:
a. Mengumpulkan informasi untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang situasi dalam memastikan pemahaman yang benar. b) brainsorm dan merencanakan proses solusi. Brainstorm adalah melihat situasi beserta perubahannya, serta memikirkan konsekuensi dari perubahan tersebut. c) Mengimplementasikan solusi. d) Memeriksa hasil.

    Berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya dan Haris, maka dapat disimpulkan bahwa langkah pemecahan masalah tersendirri dari; 1) memahami adalah mengumpulkan informasi untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang situasi dalam memastikan pemahaman yang benar. 2) Merencanakan penyelesaian adalah merencanakan strategi pemecahan dengan melihat situasi beserta perubahannya dan memikirkan konsekuensi dari strategi. 3) Melaksanakan rencana adalah penerapan solusi dari permasalahan 4) Memeriksa kembali adalah memeriksa kembali penerapan solusi dari permasalah untuk mengetahui solusi lain dan melihat apakah masalah tersebut terselesaikan.


3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah
    Menurut Davidoff (via Widiantari 2012) terdapat dua faktor yang  mempengaruhi keterampilan seseorang dalam memecahkan masalah, yaitu hasil belajar sebelumnya dan derajat kewaspadaan. Terhadap empat faktor yang mempengaruhi proses dalam pemecahan masalah menurut Rahmat ( via Winarso 2001) yaitu: a) Motivasi, belajar yang rendah akan mengalihkan perhatian, sedangkan motivasi belajar yang tinggi akan membatasi reflesitas. b) Kepercayaan dan sikap yang salah. Asumsi yang salah dapat menyesatkan pada pemahaman dalam pembelajaran. Apabila terbentuk suatu keyakinan bahwa kebahagian dapat diperoleh dengan kekayan material, maka hal tersebut dapat menjebak kearah kesulitan ketika memecahkan masalah kehidupan. Kerangka rujukan yang tidak cermat menghambat efektifitas pemecahan masalah. (c) Kebiasaan, kecenderungan untuk mempertahankan pola pikir tertentu atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas menghambat pemecahan masalah yang efisien. Hal ini menimbulkan pemikiran yang kaku (rigif mental set), lawan dari pemikiran fleksibel (flexible mental set). (b) Emosi, dalam menghadapi berbagai situasi, tidak disadari terlibat secara emosional. Emosi ini mewarnai cara berpikir disebagian manusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan emosi. Tetapi bila emosi tiu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah menjadi sulit untuk berpikir efisien.

    Pemecahan masalah akan diukur dengan mengacu pada indikator-indikator langkah-langkah pemecehan masalah. Di Dalam tes pemechan masalah, akan diberikan kasus tentang permasalahan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Selanjutnya, mahasiswa akan mengidentifikasi kasus tersebut dengan melihat langkah-langkah pemecahan masalah.

C. Hubungan antara Kecerdasan Emosi dengan Pemecahan Masalah.

    Menurut Santrock (2010), pemecahan masalah merupakan suatu proses kognitif dalam mencari solusi atau cara penyelesaian yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. Solso (2007) juga menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah suatu pemikiran yang terarah secara langsung untuk menemukan suatu solusi dan jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik. Berdasarkan kedua pendapat tentang pemecahan masalah, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu proses berpikir secara kognitif yang terarah secara langsung dalam mencari solusi atau cara penyelesaian yang tepat mencapai suatu tujuan.
    Namun, bukan hanya proses berpikir secara kognitif yang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah, karena kecerdasan intelektual tidak sepenuhnya mendominasi pencapaian prestasi belajar yang baik. Hal ini kare taraf inteligensi bukan satu-satunya faktor penentu dalam keberhasilan sosoerang dalam memecahkan maslah. Selain itu, cara berpikir seseorang juga diwarnai oleh emosi yang ada pa dirinya, sehingga tidak bisa mngesampingkan emosi dalam menghadaoi situasi tertentu (Dacidoff via Windiantari 2012). Oleh jarena itu, kecerdasan emosi berperan pula dalam pemecahan masalah.
    Goleman mengungkapkan bahwa beberapa orang yang gagal dalam gidupnya bukan karena memeiliki kecerdasan intelektual yang rendah, namun karena kurang memiliki kecerdasan emosional. Dengan demikian dapat terlihat bahwa keberhasilan soseorang dalam menjawab persoalan hidupnya dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual serta kecerdasan emosional. Selain itu, beberapa orang yang berhasil hanya memeiliki IQ yang tergolong rata-rata, tetapi kecerdasan emosional lebih berperan dalam menentukan keberhasilan seseorang dalam memecahkan masalah. Seperti yang diungkapkan oleh Cooper dan Sawaf (Yuwono,2010) berbagi penelitian telah membuktikan bahwa kecerdsan emosional menyumbangkan presentase yang lebih besar dalam kemajuan dan keberhasilan masa depan seseorang, dibandingkan dengan kecerdasan intelektual yang biasanya diukur dengan IQ. oleh karena ut dapat dikatakan bahwa kecerdasan emosional mempengaruhi kemampuan individu dalam keberhasilannya memecahkan permasalahan.
    Menurut Shapiro (Hidayat, 2010) kecerdasan emosional akan mempengaruhi perilaku tiap individu dalam permasalahan kerja. Davies (2010) menjelaskan bahwa kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengdalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, memebedakan suatu emosi dangan lainnya dan menggunakn informasi untuk menentukan proses berpikir dan berperilaku. Dengan demikian dapat diketahui bahwa kecerdasan emosional ini mempengaruhi bagaimana perilaku individu dalam menyikapi permasalahan yang muncul.
    Diungkapkan pula oleh Januarsari dan Munarto (2002 via Budi 2010) mengenai alasan pentingnya kecerdasan emosi, bahwa kecerdasan emosi yang rendah akan menyebabkan hasil belajar yang dicapai kurang baik. Hal ini kerena kecerdasan emosi berkaitan dengan kesempurnaan akal budi. Hal ini karena kecerdasan emosi berkaitan dengan emosi berkaitan dengan kesempurnaan akal budu, ketajaman berpikir dan dapat menyelesaikan persoalan dengan efektif srta mampu mengendalikan diri. Seperti yang dikatakan oleh Damasio (2007) bahwa emosi individu berperan besar terhadap suatu tindakan bahwa pengambilan rasional.

Daftar Pustaka


Adawiyah R (2013). Kecerdasan Emosional, Dukungan Soal dan Kecenderungan Burnout. Persona
Ariyanto (2011). Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Komitmen Organisasi Terhdap Kinerja dengan
Berlyen, dkk (1966). Problem Solving. New York: Jhon Wiley & Sons Inc
Motivasi Kerja Sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Manajemen Sumberdaya Manusia (vol 52)
Goelman, Daniel (2007), Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hidayati, R Dkk (2010). Kolerasi Kecerdasan Emosi dan Stres Kerja dengan Kinerja.



Kategori

Artikel " Kecerdasan Emosional " , terkait dalam kategori berikut ini;